Tampilkan postingan dengan label my OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my OPINI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2015

Wanita, Ibu, dan istri



Lihatlah ke dalam mata perempuan,
pancaran damai..penyejuk jiwa..

berbaringlah di pelukan pelukan perempuan..
hanyut semua lara duniaa...

hati perempuan menyimpan kasih sayang..
tak sebatas waktu tak kenal usia..

kesabaran perempuan seluas samudera.
ada kelembutan dalam ketegaran perempuan..
ada kelembutan dalam ketegaran..

jiwa perempuan menara kesetiaan..
teman dalam suka,
kawan dalam duka..

hargailah pperempuan sebagaimana kau menghargai dirimu..
cintailah perempuan sebagaimana kau mencintai kehidupan 
(Perempuan ,,, song by Rita efendi ) 



tak terasa air mataku mengalir mendengar lagu ini,, serta merta ingatan akan bunda dan saudara perempuanku yg telah tiada melintas lekat,,lagu diatas begitu mewakili sosok ibuku,,perempuan sabar, lembut penuh kasih namun kuat dan tegar. masih jelas ku ingat bagaimana ibuku yg memiliki 12 orang putra,,mengasuh dan membimbing kami hingga dewasa. 7 orang putra dan 5 orang putrinya di besarkan dengan penuh kesabaran,,
yg kuingat beliau selalu memberi kesejukan dan ketenangan dihati untuk mengimbangi karakter ayahanda ku yang sangat tegas dan berdisiplin. Saat kami di usia sekolah ,,berbagai cara dan daya beliau lakukan untuk mencukupi kebutuhan kami, ayahku yang hanya seorang pegawai negeri sipil dengan gaji yang mgkin hanya mencukupi 4 atau 5 orang putra, pernah kami 7 orang berturut turut duduk di perguruan tinggi.. ^_^ . Aku ingat saat kecil ibu ku membeli kain kodian, dan menjahit sendiri pakaian lebaran untuk kami,dan beliau selalu mengajarkan kepada kami, jika ingin sekolah tinggi belajar yg rajin,,kalian harus masuk ke PTN negeri, ayah dan ibu tidak kan bisa membiayai anadai kalian sekolah di swasta. 

masih melintas di benakku saat magrib tiba,,dengan penuh kasih sayang beliau mengajarkan sendiri kami anak2 nya membaca Alqur'an dan ilmu agama islam (sebelum menikah beliau adalah seorang guru Agama ).

Minggu, 29 Maret 2015

MAAF, JANGAN MENGANGAPKU MURKA

(Dialog Antara Jasad tsunami  dan tanah  Aceh ) 
SEBUAH PUISI 


Ananda - anandaku tersayang, dikesempatan ini ibu tetap mencoba berbagi ilmu pada kalian semua tentang sebuah fenomena alam yaitu Tsunami. Walau kalian yang sekarang menjadi murid ibu mungkin tidak begitu mengingat peristiwa yang sangat menyedihkan ini dikarenakan masih terlalu kecil, tapi ibu yakin, dalam setiap langkah kita kenangan ini akan sangat membekas dan menjadi pengalaman yang tak kan terlupakan. 
Berikut ibu memberikan bait-bait puisi yang mengungkapkan kedukaan, hati ibu saat kehilangan permata hati , putra  ibu yang pertama, bang Chandra Lahmuddin . Dan buat ananda sekalian mari kita belajar, agar kita semua semakin meningkatkan iman kita kepada Allah, semakin menyadari kasih sayang kedua orang tua pada kita, menyadari pentingnya Ilmu pengetahuan agar kamu dapat menjalani kehidupan dengan baik.. 

( Terinspirasi dari permata hatiku tercinta, Alm Chandra Lahmuddin Amir,   2 0ctober 1994-26 Desember 2004 )
permata hatiku .. Alm. CHANDRA LAHMUDDIN AMIR ( 02 OKTOBER 1994 - 26 Desember 2004) 


Sebait Pesan Untuk Bunda
( ku kirimkan dari tidur panjangku dalam kehangatan pelukan bumi )

Bunda, tak terasa 10 tahun berlalu,  
Ku kirimkan kembali pesan untukmu
Pesan yang sama yang kuharap tak membosankanmu
Pesan yang setiap waktu ku hadirkan keharibaanmu
Sebagai upayaku menemani  sepi mu, sebagai caraku membalas kerinduan mu,
Sebagai langkahku  menjawab doa tulus darimu  
sebagai niatku  menjaga Iman mu...

Mengapa pesan ku ini harus menemani langkah mu bunda ?
Karena ku tau, sedih, gundah dan gusar kerap mengisi sanubarimu
Saat mereka  berucap simpati namun berbias cela, 
Seolah mengerti padahal menghakimi.
Ku tau Ingin kau tampar mereka saat  dengan entengnya mereka berucap
Ini hanya hukuman kecil dari Allah, atas tanah kelahiran yang telah salah kaprah. 

Dalam dukamu, ucapan itu laksana air cuka dikucurkan diatas luka
Luka hati  yang menganga  saat kehilanganku
Luka hati yang begitu perih saat kehilangan kedua orang tua
Luka hati  yang bernanah saat kehilangan saudara se-rahim mu
Luka yang menoreh semakin dalam hingga melahirkan seribu tanya
Apa salahku ya Allah ?
 apa salah kami ya Rabb ?
 apa salah tanah kelahiran ini ya Khalik?
Mengapa musibah ini menimpa kami ?
Bukankah ini tanah serambi mekah, tanah yang berisi manusia pencinta Mu
Tanah pertama di nusantara yang melantunkan Asma-Mu, 
Tanah yang berupaya menjalankan Syariah...

Berhati-hatilah dalam mengungkap tanya pada Sang Maha Kuasa duhai bunda !
Jangan pernah meragukan ketentuan Sang Maha  Pencipta
Jangan pernah berani menyesali apa yang telah menjadi  ketetapan-Nya
Karena .... Jika sampai ini terjadi, aku.. permata hatimu kan menangis
Menangis  duka dalam tidur ku yang panjang
Menangis duka karena tak dapat lagi menjemput dan membawamu ke surga

Mestinya bunda tak terluka , mestinya bunda tak bertanya ?
Karena kau miliki sebait pesan berharga 
 yang  kudapat dari senandung merdumu  saat ruh belum terpisah dari ragaku.
Izinkan aku untuk menghantarkan pesan ini kembali keharibaanmu
 Jangan pernah bersangka buruk  atas setiap ketetapan Tuhan mu “

Sekarang tentu bunda dapat tersenyum, 
Ku yakin  prasangka baik pada Allah kan membimbingmu untuk  tau,
Bahwa aku bahagia di tidurku yang panjang dalam peraduan yang terang ,
Bahwa aku yang terlahir dari rahim mu 
adalah anak muslim yang selalu dalam lindungan Allah  

Prasangka baik pada Allah membimbingmu untuk  sadar
bahwa Tsunami ini  bukanlah murka Allah pada kita
Tsunami memanggil kami kembali ke pangkuan-Nya dengan derajat yang tinggi,
Tsunami mendudukkan kami sebagai Syuhada
Tsunami menempatkan kami di Jannatul naim surga tertinggi

Untuk bunda, abah, adik serta semua orang tercintaku yang masih miliki Ruh
Masih  menempuh jalan kehidupan 
sebagaimana tertulis di  kitab langit Lauh al-Mahfudz
Berbahagialah , karena Tsunami membuat kalian terpilih menjadi umat yang sabar
kuat menghadapi cobaan
Untuk menapak langkah menuju surga yang Allah janjikan ...



MAAF, JANGAN MENGANGAPKU MURKA
 (dialog antara jasad tsunami  dan tanah  Aceh )

Suatu saat dalam perbincangan kita
aku berkata , sepertinya kau telah sangat tua
Setenang danau  dan telaga dipermukaan tubuhmu , 
keluarlah derai kata dari lisanmu
“ Tak perlu bnyak ilmu ‘ntuk bisa  tau berapa usiaku
 Telah  banyak yang terjadi dipermukaan tubuh ini
Jangan kau pura pura tak tau,
kau pernah melihatnya, saat nyawa belum terlepas dari ragamu

Kau sekarang tentu senang , karena aku sekarang selalu menemanimu,
getir terdengar ucapanku di telingamu, hingga semakin kau dekap aku,
seolah kau mengerti aku sedang dilanda rindu pada orang- orang terkasihku
Rindu yang berbalas hanya saat tiba dibatas waktu

Hai jasad !
jangan kau merasa sendiri seolah aku ini tak ada
Jangan kau ulang lagi perbuatanmu padaku saat kau di dunia
menganggap aku ini tak ada dan bukan siapa-siapa

Aku ini ibarat  sebuah panggung pementasan dengan lakon berjudul kehidupan
Aku begitu dekat , selalu melihat , tapi tak dirasa keberadaannya
tak kucampuri kisah para pelakon di panggungku,
Walau kadang rasa marah, sesal dan kecewa  datang mendera
tak jarang tubuhku sakit akibat perlakuan kalian
Bukankah kalian diciptakan dariku oleh Tuhan kita ?
Karenanya, bagiku kalian adalah sahabat 
Walau kuyakin tak banyak kaummu yang menganggapku sahabat 

Tersentak aku mendengar kalimat yang keluar dari  si tanah, 
Aku terdiam , tapi membenarkannya dihatiku terdalam
Membenarkan kurangnya  kasih sayang 
pada tanah kelahiran  yang telah memberi  kehidupan
  
kupotong lamunan si tanah dengan sebuah tanya 
yang tlah sekian lama mengendap di kepala
tapi, mengapa  saat itu  kau murka ?
sehingga aku, keluargaku serta begitu banyak orang tergilas musnah, 
berpulang ke pangkuan Rabb ku
 
Sebentar terdiam lalu dengan nada lirih kau jawab tanyaku
Tidakkah kau tau , saat tragedi itu aku bukan tak merana
Tubuhku tergeser dan patah mungkin terlalu berat menanggung beban
Asinnya garam saat laut merembes kedalam lukaku pedih tak tertahankan
Sehingga aku menjerit setinggi langit, bergerak tak tentu,
berusaha mengeluarkan kembali air penyebab perih itu
 Aku tak tau ... polahku bangkitkan gelombang raksasa yang berlari dengan kencang
seolah tangan raksasa meraup, mencengkram, menggulung 
 kemudian  menghempas semua
Pekik kematian, jerit kepedihan seolah kiamat bagi ku  

Saat terdengar suara suara, dalam ketakutan mereka memperbincangkanku
Menuduhku sedang murka, padahal aku bukan sang angkara murka
Taukah kau betapa pedih hatiku
Kutegaskan sekali lagi,
Aku... si bumi ... adalah sahabat kalian sepanjang masa, seumur dunia
Aku dan kalian adalah sama ciptaan tuhan, pengikut segala ketetapan-Nya
Jangan musuhi aku, jangan menyalahkanku
Yakinlah bahwa ini semua bukan tanpa hikmah
Karena ini berasal dari Sang pengasih , 
Sang Maha Tau dan Sang maha Bijak
Ikhlaslah untuk menerimanya

Selasa, 19 Juli 2011

Laksamana Keumalahayati


LAKSAMANA KEUMALAHAYAT
Terus terang saya pribadi telah mengenal atau setidaknya mendengar tentang Laksamana Keumalahayati sejak saya duduk di bangku sekolah dasar. Dan alangkah terkejutnya saya saat mengetahui banyak siswa-siswa saya yang tidak mengenal sosok pahlawan aceh ini.Fakta ini saya ketahui secara kebetulan, saat saya menggarap sebuah karya tari kreasi untuk suatu ajang festival tari setingkat SMP (FLS2N, Festival Lomba Seni Siswa Nasional ) suatu Kebetulan tema garapan tari di tahun 2011 ini adalah patriotisme, dan saya secara langsung terpikir untuk menjadikan Laksamana Keumalahayati sebagai tema garapan tari saya . 

Pada saat penggarapan tari, untuk menanamkan Wirasa pada para penari (siswa), saya meminta mereka untuk mempelajari biografi singkat dari tokoh yang akan kami tampilkan, saat itulah saya mengetahui bahwa dari 6 penari saya tidak satupun yang mengenal tokoh ini. Selanjutnya saya juga mencoba bertanya pada siswa-siswa lainnya saat pembelajaran di kelas, dan ternyata hanya segelintir anak yang tau dan itupun hanya sebatas pernah mendengar nama Laksamana Keumalahayati. 

Kita mengenal sosok pahlawan R.A Kartini yang berbeda generasi dan gaya perjuangannya ,sangat ironis memang, fakta yang saya temui memperlihatkan anak-anak di aceh tidak mengenal sosok hebat dari daerahnya sendiri. Hal ini terjadi karena nama Keumalahayati jarang di sebut atau diperkenalkan kepada mereka. Padahal begitu bangganya mereka (setelah membaca berbagai informasi)saat mengetahui sebuah fakta bahwa Laksamana Keumalahayati merupakan wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana, bayangkan, pertama di dunia.

Sang Srikandi Aceh petarung gigih, pemberani , perkasa, berjuang di garis depan memimpin laskar Inong Balee yang disegani lawan dan kawan. " BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MAMPU MENGHARGAI JASA PAHLAWANNYA" (Ir.Soekarno) 

berikut petikan sejarah singkat LAKSAMANA KEUMALAHAYATI  ysang saya rangkum dr berbagai sumber : Sejarah menunjukkan, bahwa di ujung barat kepulauan Nusantara terdapatlah sebuah Kerajaan Islam Aceh Darussalam, yang tercatat sebagai satu dari lima kerajaan Islam terbesar di jamannya. Sebagai sebuah kerajaan yang terletak di ujung barat, maka Kerajaan Aceh Darussalam menjadi pintu gerbang pelayaran di Selat Malaka. Oleh karenanya tidak mengherankan bahwa Kerajaan Aceh Darussalam memiliki Armada Laut yang luar biasa kuatnya.
Dalam perjalanan sejarah, pada maa 1604, sejarah mencatat nama besar seorang pahlawan perempuan yaitu LAKSAMANA KEUMALAHAYATI.  

1. Riwayat Hidup

 Laksamana Keumalahayati merupakan wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana. Ia lahir pada masa kejayaan Aceh, tepatnya pada akhir abad ke-XV. Berdasarkan bukti sejarah (manuskrip) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia dan berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan Aceh. Belum ditemukan catatan sejarah secara pasti yang menyebutkan kapan tahun kelahiran dan tahun kematiannya. Diperkirakan, masa hidupnya sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI.Laksamana Keumalahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M. Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. 
Jika dilihat dari silsilah tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Laksamana Keumalahayati merupakan keturunan darah biru atau keluarga bangsawan keraton. Ayah dan kakeknya pernah menjadi laksamana angkatan laut. Jiwa bahari yang dimiliki ayah dan kakeknya tersebut kelak berpengaruh besar terhadap kepribadiannya. Meski sebagai seorang wanita, ia tetap ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya tersebut.

 a. Riwayat Pendidikan 

Ketika menginjak usia remaja, Laksamana Keumalahayati mendapatkan kebebasan untuk memilih pendidikan yang diinginkannya. Ketika itu Kesultanan Aceh Darussalam memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Makdis, yang terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Setelah menempuh pendidikan agamanya di Meunasah, Rangkang, dan Dayah, oleh karena ia ingin mengikuti karir ayahnya sebagai laksamana, maka ia mendaftarkan diri dalam penerimaan taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Ia diterima di akademi ini dan dapat menempuh pendidikan militernya dengan sangat baik. Bahkan, ia berprestasi dengan hasil yang sangat memuaskan.Sebagai siswa yang berprestasi, Laksamana Keumalahayati berhak memiliki jurusan yang diinginkannya Ia memilih jurusan Angkatan Laut.

Ketika menempuh pendidikan di akademi ini ia pernah berkenalan dengan seorang calon perwira laut yang lebih senior (data tentang namanya belum diketahui). Perkenalan tersebut berlanjut hingga benih-benih kasih sayang terbangun di antara mereka. Mereka berdua akhirnya bersepakat untuk saling memadu kasih dan menyatukan diri ke dalam cinta. Setelah tamat dari Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, keduanya melangsungkan pernikahan. 

Setelah menamatkan studinya di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, Laksamana Keumalahayati berkonsentrasi pada dunia pergerakan dan perjuangan. Ia diangkat oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604 M) sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia di Kesultanan Aceh Darussalam. Jabatan tersebut merupakan kepercayaan sultan terhadap dirinya, sehingga ia perlu menguasai banyak pengetahuan tentang etika dan keprotokolan. 

b. Riwayat Perjuangan 

Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati dimulai dari sebuah perang di perairan Selat Malaka, yaitu antara armada pasukan Portugis dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dan dibantu oleh dua orang laksamana. Pertempuran sengit terjadi di Teluk Haru dan dimenangkan oleh armada Aceh, meski harus kehilangan dua laksamananya dan ribuan prajuritnya yang tewas di medan perang. Salah satu laksamana yang tewas tersebut adalah suami Laksamana Keumalahayati sendiri yang menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia. 

Setelah suaminya meninggal dunia dalam peperangan tersebut, ia berjanji akan menuntut balas dan bertekad meneruskan perjuangan suaminya meski secara sendirian. 
Untuk memenuhi tujuannya tersebut, Laksamana Keumalahayati meminta kepada Sultan al-Mukammil untuk membentuk armada Aceh yang semua prajuritnya adalah wanita-wanita janda karena suami mereka gugur dalam Perang Teluk Haru. Permintaan Keumalahayati akhirnya dikabulkan. Ia diserahi tugas memimpin Armada Inong Balee dan diangkat sebagai laksamananya. 

Ia merupakan wanita Aceh pertama yang berpangkat laksamana (admiral) di Kesultanan Aceh Darussalam. Armada ini awalnya hanya berkekuatan 1000 orang, namun kemudian diperkuat lagi menjadi 2000 orang. Teluk Lamreh Krueng Raya dijadikan sebagai pangkalan militernya. Di sekitar teluk ini, ia membangun Benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan. 

Setelah memangku jabatan sebagai laksamana, Keumlahayati mengkoordinir pasukannya di laut, mengawasi berbagai pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, dan mengawasi kapal-kapal jenis galey milik Kesultanan Aceh Darussalam. Seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris, John Davis, mengungkapkan fakta bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksanana Keumalahayati, Kesultanan Aceh Darussalam memiliki perlengkapan armada laut yang di antaranya terdiri dari 100 buah kapal (galey) dengan kapasitas penumpang 400-500 orang. 

Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati tidak berhenti di sini. Ia pernah terlibat dalam pertempuran melawan kolonialisme Belanda. Ceritanya, pada tanggal 22 Juni 1586, Cornelis de Houtman memimpin pelayaran pertamanya bersama empat buah kapal Belanda dan berlabuh di Pelabuhan Banten. Setelah kembali ke Belanda, pada pelayaran yang kedua, ia memimpin armada dagang Belanda yang juga dilengkapi dengan kapal perang. Hal itu dilakukan untuk menghadapi kontak senjata dengan Kesultanan Aceh Darussalam pada tanggal 21 Juni 1599. Dua buah kapal Belanda bernama de Leeuw dan de Leeuwin yang dipimpin oleh dua orang bersaudara, Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman, berlabuh di ibukota Kesultanan Aceh Darussalam. Pada awalnya, kedatangan rombongan tersebut mendapat perlakuan yang baik dari pihak kesultanan karena adanya kepentingan hubungan perdagangan.Namun, dalam perkembangan selanjutnya Sultan al-Mukammil tidak senang dengan kehadiran rombongan tersebut dan memerintahkan untuk menyerang orang-orang Belanda yang masih ada di kapal-kapalnya. Ada dugaan bahwa sikap Sultan tersebut banyak dipengaruhi oleh hasutan seseorang berkebangsaan Portugis yang kebetulan menjadi penerjemahnya. Serangan tersebut dipimpin sendiri oleh Laksamana Keumalahayati. Alhasil, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh, sedangkan Frederick de Houtman tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara (selama 2 tahun)

. Keberhasilan Laksamana Keumalahayati merupakan sebuah prestasi yang sungguh luar biasa.Keumalahayati ternyata bukan hanya sebagai seorang Laksamana dan Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh Darussalam, namun ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Pasukan Wanita Pengawal Istana. Jabatan ini merupakan tugas kesultanan dalam bidang diplomasi dan ia bertindak sebagai juru runding dalam urusan-urusan luar negeri. Ia sendiri telah menunjukkan bakatnya dan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ia memiliki sifat dan karakter yang tegas sekaligus berani dalam menghadapi berbagai momen perundingan, baik dengan Belanda maupun Inggris. 

Meski begitu, sebagai diplomat yang cerdas, ia dapat bersikap ramah dan luwes dalam melakukan berbagai perundingan.Pada tanggal 21 November 1600, rombongan bangsa Belanda yang dipimpin Paulus van Caerden datang ke Kesultanan Aceh Darussalam. Sebelum memasuki pelabuhan, rombongan ini menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh dengan terlebih dahulu memindahkan segala muatan lada yang ada di dalamnya ke kapal mereka. Setelah itu datang lagi rombongan bangsa Belanda kedua yang dipimpin oleh Laksamana Yacob van Neck. Mereka mendarat di Pelabuhan Aceh pada tanggal 31 Juni 1601. Mereka memperkenalkan diri sebagai bangsa Belanda yang datang ke Aceh untuk membeli lada. Setelah mengetahui bahwa yang datang adalah bangsa Belanda, Laksamana Keumalahayati langsung memerintahkan anak buahnya untuk menahan mereka. Tindakan tersebut mendapat persetujuan Sultan al-Mukammil karena sebagai ganti rugi atas tindakan rombongan Belanda sebelumnya.Pada tanggal 23 Agustus 1601, tiba rombongan bangsa Belanda ketiga yang dipimpin oleh Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker dengan empat buah kapal (Zeelandia, Middelborg, Langhe Bracke, dan Sonne) di Pelabuhan Aceh.

Kedatangan mereka memang telah disengaja dan atas perintah Pangeran Maurits. Kedua pimpinan rombongan mendapat perintah untuk memberikan sepucuk surat dan beberapa hadiah kepada Sultan al-Mukammil. Sebelum surat diberikan, sebenarnya telah terjadi perundingan antara Laksamana Keumalahayati dengan dua pimpinan rombongan Belanda. Isi perundingan tersebut adalah terwujudnya perdamaian antara Belanda dan Kesultanan Aceh, dibebaskannya Frederick de Houtman, dan sebagai imbalannya Belanda harus membayar segala kerugian atas dibajaknya kapal Aceh oleh Paulus van Caerden (akhirnya Belanda mau membayar kerugian sebesar 50.000 golden). 

Setelah itu hubungan antara Belanda dan Kesultanan Aceh berlangsung cukup baik. Kehadiran bangsa Belanda dapat diterima secara baik di istana kesultanan dan mereka diperbolehkan berdagang di Aceh. Sebagai lanjutan dari hubungan baik antara Belanda dan Kesultanan Aceh, maka diutuslah tiga orang untuk menghadap Pangeran Maurits dan Majelis Wakil Rakyat Belanda. Ketiga orang itu adalah Abdoel Hamid, Sri Muhammad (salah seorang perwira armada laut di bawah Laksamana Keumalahayati), dan Mir Hasan (bangsawan kesultanan). Meski sedang dilanda perang melawan kolonialisme Spanyol, pihak Belanda menyambut utusan Aceh tersebut dengan upacara kenegaraan. 

Peran diplomatik Laksamana Keumalahayati masih berlanjut. Hal ini bermula dari keinginan Inggris untuk menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ratu Elizabeth I (1558-1603 M) mengirim utusan untuk membawa sepucuk suratnya kepada Sultan Aceh al-Mukammil. Rombongan yang dipimpin oleh James Lancaster, seorang perwira dari Angkatan Laut Inggris ini, tiba di Pelabuhan Aceh pada tanggal 6 Juni 1602. Sebelum bertemu dengan Sultan al-Mukammil, Lancaster mengadakan perundingan dengan Laksamana Keumalahayati. Dalam perundingan itu, Lancaster menyampaikan keinginan Inggris untuk menjalin kerjasama dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ia juga berpesan agar Laksamana Keumalahayati memusuhi Portugis dan berbaik hati dengan Inggris. Laksamana Keumalahayati meminta agar keinginan tersebut dibuat secara tertulis dan diatasnamakan Ratu Inggris.

Setelah surat tersebut selesai dibuat, Lancaster diperkenankan menghadap Sultan al-Mukammil.Laksamana Keumalahayati juga berperan besar dalam menyelesaikan intrik kesultanan. Hal ini bermula dari peristiwa penting perihal suksesi kepemimpinan di Kesultanan Aceh Darussalam.

Pada tahun 1603 M, Sultan al-Mukammil menempatkan anak lekaki tertuanya sebagai pendamping dirinya. Namun, rupanya putra tersebut berkhianat terhadap ayahnya dan mengangkat dirinya sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M).Pada masa awal kepemimpinannya, berbagai macam bencana menimpa Kesultanan Aceh Darussalam, seperti kemarau yang berkepanjangan, pertikaian berdarah antar saudara, dan ancaman dari pihak Portugis. Tidak ada keinginan kuat dari Sultan Ali Riayat Syah untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan serius. Maka banyak timbul rasa kekecewaan dari punggawa kesultanan, salah satu di antaranya adalah Darmawangsa Tun Pangkat, kemenakannya sendiri. Darmawangsa ditangkap dan dipenjara atas perintah Sultan.

 Pada bulan Juni 1606, Portugis menyerang Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Alfonso de Castro. Ketika itu Darmawangsa masih berada di penjara. Ia memohon kepada Sultan Ali Riayat Syah agar dirinya dapat dibebaskan dan dapat ikut bertempur melawan Portugis. Dengan didukung adanya pemintaan Laksamana Keumalahayati, Darmawangsa akhirnya dapat dibebaskan. Mereka berdua akhirnya berjuang bersama dan dapat menghancurkan pasukan Portugis.Oleh karena Sultan Ali Riayat Syah dianggap banyak kalangan tidak cakap lagi memimpin kesultanan, maka Laksamana Keumalahayati melakukan manuver dengan cara menurunkan Sultan Ali Riayat Syah dari tahta kekuasaan. Darmawangsa akhirnya terpilih sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).

Pada masanya, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai zaman keemasan.2. KaryaKarya Laksamana Keumalahayati memang tidak berupa buku atau berbagai bentuk tulisan. Namun demikian, segala bentuk perjuangannya dalam melawan kolonialisme dapat juga dianggap sebagai karya-karya nyatanya. Di antara karya-karya dimaksud adalah sebagai berikut:Ia pernah membangun Benteng Inong Balee dengan tinggi 100 meter dari permukaan laut. Tembok benteng menghadap ke laut dengan lebar 3 meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu teluk.ia pernah berhasil membunuh Cornelis de Houtman, salah seorang pemimpin kapal Belanda yang pertama kali tiba di Aceh.

 3. Penghargaan 

Sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangannya, sebuah serial bertajuk “Laksamana Keumalahayati” telah digarap dengan sutradara Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Adhyaksa Dault. Serial ini berisi 13 episode. Episode perdananya telah diputar di Blitz Megaplex (10 November 2007).













Mengenai Saya